Ultima II Clear White Supreme Bright Clarifying Mask ini punya tekstur yang termasuk cair jika dibandingkan clay mask pada umumnya. Tak hanya sebagai clay mask biasa, masker ini dilengkapi dengan butiran scrub. Meskipun bisa dibilang agak kasar, butiran scrub dalam masker ini nggak terlalu banyak sehingga masih cenderung "bersahabat" di kulit. Kandungan charcoal membuat masker ini hadir dengan warna abu-abu tua.
Ultima II Clear White Supreme Bright Clarifying Mask mengandung bahan utama berupa charcoal yang sudah dikenal bisa menyerap minyak berlebih dan membersihkan pori-pori. Butiran scrub-nya adalah apricot seed powder yang dengan maksimal mampu mengangkat kotoran dan sel kulit mati yang menumpuk di wajah.
Masker ini mengklaim mengandung Procollagen Complex untuk menjaga kadar air dalam kulit agar tetap terasa halus dan elastis. Kandungan lainnya ada Phytessence™ Kudzu yang bisa mencegah kerusakan kolagen agar wajah juga tetap awet muda. SepicalmTM VG WP dan Sepiwhite™ MSH membuat kulit halus dan lebih cerah.
Menurutku, masker ini unik banget karena aku belum pernah melihat ada clay mask yang mengandung kolagen. Makanya, masker ini bisa jadi pilihan tepat buat kamu yang sudah berusia 20-an, tapi masih bermasalah dengan kulit berminyak.
Efek di kulit
Kalau kamu nggak suka memakai clay mask yang membuat kulit super kaku ataupun terasa kering setelah dibilas, masker ini adalah solusinya. Saat dipakai, wajahku sama sekali nggak terasa ketarik. Masker ini agak lama kering, bahkan setelah aku diamkan selama 15 menit lebih, masih terasa lembap di wajah. Itulah kenapa masker ini nggak akan membuat wajah terasa kaku.
Clay mask lain juga biasanya sulit dibilas sehingga harus diangkat menggunakan spons, kalau masker ini nggak seperti itu. Cukup tambahkan sedikit air, pijat wajah perlahan sambil memanfaatkan scrub di dalamnya, lalu masker akan terangkat dengan mudah setelah dibilas dengan air.
Yang aku paling suka dari masker ini adalah rasa setelah dibilas. Wajah terasa lembap, meskipun minyak berlebih sudah terserap. Efek setelah dibilas juga membuat wajah tampak lebih cerah dan halus.
Yang aku nggak suka, wangi masker ini lumayan menyengat. Untungnya, lama kelamaan agak berkurang seiring masker mengering. Aku juga nggak suka entah kenapa isi produk seperti "luber". Saat mengeluarkan produk, aku harus hati-hati agar nggak terlalu banyak isi yang keluar.
Aku sudah beberapa kali pakai masker ini, tapi belum ada efek jangka panjang yang terlihat. Misalnya, wajah tampak cerah hanya setelah masker dibilas. Aku juga belum menemukan perbedaan yang signifikan selain wajah terasa bersih setiap habis pakai masker ini. Mungkin, aku harus gunakan lebih lama untuk dapatkan efek yang lebih maksimal. Tapi, aku notice kalau masker ini lumayan cepat membuat jerawat kering dan kempes jika dipakai sebagai obat totol jerawat, bahkan untuk cystic acne.
Jadi, aku tetap rekomen masker ini, terutama buat kamu yang berjenis kulit berminyak bahkan jenis kulit kering karena masker ini bukan seperti clay mask konvensional.
Kelebihan
- Cepat mengeringkan jerawat
- Tidak membuat wajah kering
- Wajah halus dan lembap setelah dibilas
- Isi banyak
Kekurangan
- Wangi cukup menyengat
- Harga agak mahal (Rp295.000,00)
- Isi produk mudah meluap, bahkan ketika kemasan tidak ditekan
Nah, kalian bakal coba Ultima II Clear White Supreme Bright Clarifying Mask?
Halo! Perkenalkan, aku Wilda. Alhamdulillah aku berhasil lolos menjadi Awardee Beasiswa Unggulan S2 Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Di postingan ini, aku mau berbagi esai yang aku tulis saat memenuhi persyaratan Beasiswa Unggulan ini. Boleh dijadikan inspirasi, ya!
Kedewasaan Mental: Bekal
Milenial Menjadi Generasi Unggulan Bangsa
oleh Wilda Khairani
Essai ini saya tulis untuk mengikuti Beasiswa Unggul
Masyarakat Berprestasi tahun 2020/2021. Nama saya Wilda Khairani. Saya berasal
dari Depok, Jawa Barat. Saya mahasiswa baru Program Magister Ilmu Linguistik
Universitas Indonesia.
Berbicara mengenai
“generasi unggul”, kebanyakan orang akan langsung mengasosiasikan istilah ini
pada generasi muda. Pasalnya, menciptakan atau menjadi generasi unggul bukan sekadar
mementingkan persoalan tua atau muda. Masih banyak hal mendasar lainnya yang
lebih esensial dibandingkan usia. Bagi saya, menjadi generasi unggul kebanggaan
bangsa Indonesia adalah persoalan kedewasaan mental. Pembicaraan tentang mental
tidak dapat ditentukan dari usia. Generasi yang sudah termasuk “berpengalaman” pun
tidak selalu sudah berhasil mencapai kedewasaan mental. Begitu pula jika
dilihat dari persepsi generasi muda. Meskipun usia belum memasuki kepala tiga,
bukan berarti mereka belum memperoleh kedewasaan mental. Pada esai ini, saya
ingin menjabarkan opini saya mengenai makna kedewasaan mental dalam usaha untuk
menjadi generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia, terlepas dari pembicaraan
usia.
Sebelumnya, saya
ingin kembali memperjelas alasan saya tidak terlalu berkelut pada usia ketika
membicarakan generasi unggul. Bagi saya, kita semua mampu menjadi generasi
unggul, berapa pun genap usia yang telah dilewati. Untuk menjadi generasi
unggul kebanggaan bangsa Indonesia, muncul tuntutan memiliki kemampuan nyata
berkontribusi untuk bangsa. Faktanya, kemampuan ini tidak selalu dimiliki oleh
generasi tua ataupun sudah pasti hanya mampu dilakukan oleh generasi muda.
Namun, tidak adil pula untuk langsung melempar tongkat estafet kepada generasi
muda.
Seperti
pembelajaran paling dasar di bidang sosiologi, manusia adalah makhluk sosial.
Jalinan kontribusi antara generasi muda dan tua tidak dapat dimungkiri tetap
diperlukan untuk membangun bangsa. Kita tidak dapat hanya mengandalkan generasi
tua untuk menjadi generasi unggul, meskipun pengalaman dan kebijaksanaan mereka
adalah aset yang tidak dapat dibantahkan. Namun, implementasi nyata dari
berbagai konsep atau pengalaman yang dapat dipelajari dari generasi tua
tersebut tetap membutuhkan perspektif dan tenaga segar dari generasi muda. Oleh
karena itu, dibutuhkan kerendahan hati dari kedua kubu untuk tidak saling
meremehkan maupun mengacuhkan kontribusi masing-masing.
Pada tulisan ini, saya
tidak akan terlalu jauh mendebatkan ketimpangan antara generasi tua dan
generasi muda di Indonesia. Sebagai individu yang dapat digolongkan ke dalam
generasi muda, saya hanya ingin lebih membicarakan bagaimana implementasi nyata
generasi muda zaman sekarang atau yang lebih akrab disebut dengan istilah
milenial untuk menjadi generasi unggul yang membanggakan. Bagi saya, niat ingin
berkontribusi untuk bangsa masih berupa angan-angan jika belum bisa berdamai
dengan diri sendiri. Sebagai milenial, saya sangat mengerti berbagai gemelut
batin yang banyak dirasakan generasi muda saat ini.
Yang pertama
adalah wacana “passion”. Memasuki usia 20-an, banyak milenial yang mengaku
mengalami quarter-life crisis. Mengutip dari Guardian[1],
quarter-life crisis adalah keadaan psikologis berupa kecemasan akibat
tekanan untuk menjadi sukses dalam karier, keuangan, dan hubungan sebelum
memasuki usia 30 tahun. Banyak milenial yang mengalami hal ini merasa
kehilangan arah, tidak tahu harus melakukan apa dalam hidup mereka, atau pun
tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mereka juga sering kali merasa
jalan hidup yang mereka jalani sekarang tidak sesuai passion. Hal ini
membuat tidak sedikit milenial “terobsesi” untuk mencari dan menemukan passion.
Bagi mereka, jika sudah hidup dan punya pekerjaan sesuai passion, mereka
akan bahagia. Saya tidak menyalahkan anggapan ini, bahkan saya setuju. Namun,
ada yang perlu digarisbawahi. Passion justru menjadi “racun” ketika kita
merasa tertekan untuk menemukannya.
Permasalahannya, usia
20-an bukanlah masa ketika milenial sudah harus tahu segalanya. Milenial harus
mengerti, belum menemukan passion di usia 20-an bukan berarti mereka
adalah produk gagal. Hal ini yang membuat saya percaya, saatnya berhenti mengglamorkan
kata “passion”.
Kecemasan quarter-life
crisis ini tidak dapat dimungkiri juga sedikit-banyak dipengaruhi media
sosial. Berbagai tekanan datang ketika, misalnya, seorang milenial
membandingkan diri dengan teman-teman media sosialnya yang sudah punya
penghasilan dua digit di usia 25 tahun atau yang sudah menikah dan punya anak
di usia 23 tahun.
Passion bukan sesuatu yang perlu dikejar. Saya rasa, milenial
yang mengalami quarter-life crisis harus kembali menentukan apa definisi
kesuksesan sebenarnya bagi mereka daripada memusingkan passion.
Mengetahui apa yang diinginkan dalam hidup bukanlah proses semalam jadi.
Dibutuhkan ketekunan dan keberanian untuk mengeksplorasi segalanya yang
tersedia di zaman sekarang ini.
Hal ini
berhubungan dengan gemelut batin milenial yang kedua, yaitu takut mencoba.
Masalahnya, bagaimana kita bisa tahu bahwa kita ahli dan menyukai suatu bidang
jika belum mencobanya? Bagaimana kita tahu kalau hal atau pekerjaan tersebut
akan membawa kebahagiaan dan makna kesuksesan yang kita dambakan jika belum
mencobanya? Menurut saya (dan hampir sesuai pengalaman), ketakutan terhadap
kegagalan dan persepsi orang lainlah yang membuat milenial masih maju-mundur
untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dalam hidup. Oleh karena
itu, penting untuk mempunyai keteguhan mental melawan itu semua.
Hal ini juga
mengarah pada gemelut batin milenial yang ketiga, yaitu mudah menyerah. Ketika
sudah berani mencoba, tidak sedikit milenial yang tidak cukup tangguh
menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Bukan berarti harus memaksakan diri
untuk melakukan apa yang tidak disuka, tetapi milenial perlu mengerti, setiap
titik keringat yang menetes tidak ada yang sia-sia. Jika saat ini sedang
mencoba sesuatu, lalu menemukan kesulitan, itu bukan tanda harus berhenti dan
keluar dari keadaan tersebut, tetapi bagaimana proses mendewasakan diri melewati
semua itulah yang perlu ditanamkan.
Ketiga gemelut
batin tersebut bagi saya penting untuk milenial hadapi sebelum berpikir
bagaimana cara berkontribusi untuk bangsa. Tidak mengelak, saya sendiri masih
dalam proses berdamai dengan diri sendiri melawan ketiga hal tersebut. Namun,
saya cukup percaya diri untuk berkata bahwa saya sudah hampir masuk ke fase
“siap” memberi implementasi nyata sebagai generasi unggul kebanggaan bangsa
Indonesia.
Sebagai mahasiswa Program
Magister Ilmu Linguistik Universitas Indonesia, saya memiliki peran untuk
berkontribusi dalam bidang bahasa dan literasi. Menggabungkan ilmu yang akan
saya peroleh selama 1,5 tahun ke depan dan keunggulan kemampuan menulis, saya
siap berdedikasi untuk menjadi generasi unggulan. Bahasa adalah aspek mendasar
pada bidang apa pun sehingga saya yakin ilmu yang diberikan program magister
ini akan sangat berguna untuk menopang tujuan dan usaha saya berkontribusi
kepada bangsa, apa pun bentuknya.
Saya ingin
menambah wawasan dan khasanah penelitian di bidang kebahasaan agar dapat
dipergunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang tidak hanya terdapat di
bidang ini, tetapi juga melampauai aspek kehidupan yang lain. Saya ingin
memanfaatkan kemampuan menulis saya untuk memperkaya literasi dan mengedukasi
para sivitas akademik (maupun orang umum yang tertarik) di bidang linguistik
karena saya sadar penulis mutakhir Indonesia di bidang ini masih kurang. Oleh
karena itu, mengambil program magister adalah salah satu upaya saya
mendewasakan mental sebelum akhirnya bisa memberi kontribusi nyata dalam cakupan
negara.
Berhenti mengglamorkan kata “passion”, berani mencoba, dan tangguh menyelesaikan apa yang sudah dimulai adalah bekal saya dan teman-teman milenial untuk berdamai dengan diri sendiri agar mencapai kedewasaan mental. Setelah berhasil, bukan berarti proses telah berakhir. Pengembangan diri harus terus dilakukan agar kapan pun dibutuhkan, kita semua siap menjadi generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia.
1. Shopping in Platinum Fashion Mall
Shopping would not be delightful on an empty stomach. If it is lunch or dinner time, don't even bother looking for foods outside the mall. Platinum has a food court which serves endless choices. Everything looks so mouthwatering, even my nose was blessed. The only advice from me to my Muslim friends is to beware of nonhalal foods and drinks. Always look for the halal logo first before ordering anything, or don't order from the counter that has bacon and their friends on the menu. There are some Malay and Indian food counters you can try. My fam and I ordered biryani rice, chicken curry, tom yam, sour salad, mango sticky rice, and coconut water. Not to mention, you can try my most favorite Thai tea, Cha Tra Mue.
Address: 222 Phetchaburi Rd, Khwaeng Thanon Phetchaburi, Khet Ratchathewi, Krung Thep Maha Nakhon 10400, Thailand
Open (Platinum Mall): 8AM-9PM
Let's move from Pratunam District to Siam. These two places don't connect with BTS. So, we ordered a Grab Car to get to Siam Square from our hotel (it is not far from Platinum Mall). Frankly, I don't really recommend to shop in Siam Square because it is just similar to other shopping centers in Jakarta. Indeed, they sell cute fashion stuff but I prefer Platinum considering the price tags. However, there are some spots you definitely have to give a visit to Siam Square. One of them is After You Dessert Cafe. The place is not too big but super comfy to spend the evening with your loved ones. Once you enter, you can tell it is one of the Thai young people's favorite spots to hang out.
They have a lot of delicious dessert options on their menu that might make you have a hard time to decide. But don't think too much, I couldn't recommend enough their signature shaved ice, kakigori. My favorite is this strawberry cheesecake kakigori. The ice is so soft and melts down perfectly, transforming into milk on your tongue. The strawberry juice is not too sour nor sweet. It is made straight from real strawberries, not from strawberry jam. If you take a look at this picture below, you might be wondering, where is the cheesecake? Um, well, it is in the ice! After digging almost half of the ice, you will find the cheesecake cover by cookie crumbs. It is another best thing that came into my mouth that evening. I also ordered their iced chocolate which was a perfect combination between sweetness and chocolate bitterness.
4. Beauty shopping in Multy or Eve and Boy
While in Siam, it is a perfect time to shop for some makeup and skincare. If you want some budget-friendly beauty supplies, you can shop in Multy. But if you don't mind spending more, Eve and Boy would be the best choice. You can find Thai, Korean, or even Western products in both stores. I bought some lip tints, different kinds of masks, and moisturizers.
Pics credit: twipu.com and sistacafe.com
Multy
Address: 392/10-11, 1st Floor Siam Square soi 5, Rama I Rd, Pathum Wan District, Bangkok 10330, Thailand
Open: 10.30AM-9PM
Eve and Boy
Address: 186/1-4 ถนน พระราม 1 ซอย สยามสแควร์ 7 Khwaeng Pathum Wan, Khet Pathum Wan, Krung Thep Maha Nakhon 10330, Thailand
Open: 10.30AM-9.30PM
5. Playing with Brown and Cony at Line Village
Line Village is another unique and super adorable spot to visit. Prepare yourself to take lots of pictures with Brown and Cony. The only note I would give is the price may be too pricey and some people might think it is not worth it since the place doesn't offer that much. But I am personally satisfied with all the cuteness inside its installation.
Satu-satunya yang gak aku suka dari produk ini cuma fragrance-nya lumayan menyengat. Gak mengejutkanlah karena aku tahu produk-produk Wardah memang seperti itu, makanya awalnya aku agak skeptis. Tapi, untuk harga yang super ramah di kantong, aku gak akan banyak komplain lagi haha.

























